Ketahui Bagaimana Remitansi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Remitansi bukan sekadar proses mengirim uang ke luar negeri, namun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Yuk, pelajari lebih di sini.
Banyak orang mengira remitansi hanya soal mengirim uang dari luar negeri untuk keluarga di rumah. Padahal, kegiatan pengiriman uang internasional ini dapat memengaruhi stabilitas keuangan nasional dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurut laporan PBB, hingga di tahun 2025, remitansi tercatat sebagai salah satu sumber pendanaan eksternal terbesar bagi negara berkembang, bahkan melampaui bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance/ODA). Jadi, remitansi bukan sekadar aktivitas finansial individu, melainkan bagian penting dari sistem ekonomi global.
Penasaran bagaimana aktivitas pengiriman uang lintas negara menjadi sangat berkontribusi? Yuk, lihat penjelasannya lebih jauh di bawah ini.
4 Peran Utama Remitansi dalam Ekonomi Nasional
Berbeda dengan aliran dana investasi yang mudah berubah mengikuti kondisi global, aliran dana remitansi cenderung jauh lebih stabil karena melibatkan kebutuhan personal. Hal inilah yang menyebabkan remitansi sering menjadi penopang ekonomi disaat kondisi dunia sedang tidak menentu.
Berikut beberapa peran utama remitansi yang mendukung pertumbuhan ekonomi negara.
1. Menjaga Stabilitas Devisa dan Makroekonomi

Remitansi merupakan salah satu penyumbang devisa yang penting bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Aliran dana ini membantu memperkuat cadangan devisa yang dapat digunakan untuk membayar impor dan menjaga stabilitas nilai tukar mata uang lokal.
Berbeda dengan investasi asing dari perusahaan atau investor luar negeri yang sangat dipengaruhi situasi dan tren pasar global, remitansi cenderung bersifat counter-cyclical, artinya aliran dana tetap mengalir atau bahkan meningkat saat ekonomi sedang melemah, karena aktivitas remitansi bukan untuk mencari keuntungan dalam jangka pendek melainkan untuk memenuhi kebutuhan personal.
Di Indonesia, Bank Indonesia mencatat bahwa remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkontribusi nyata terhadap ketahanan neraca pembayaran (catatan seluruh transaksi ekonomi Indonesia dengan luar negeri). Menurut laporan dari Bank Indonesia, hingga kuartal ke-3 di tahun 2025, nilai remitansi PMI tercatat menembus USD 4.4 miliar atau setara ± IDR 65 triliun, hal ini menjadi bukti nyata betapa besarnya peran remitansi sebagai sumber devisa nasional.
2. Mendorong Konsumsi Masyarakat dan Mengurangi Kemiskinan

Sebagian besar dana remitansi digunakan langsung untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Umumnya, uang tersebut dibelanjakan di sekitar tempat tinggal penerima, seperti di pasar, warung, atau untuk berbagai layanan jasa.
Penggunaan remitansi seperti ini memberi dampak langsung pada peningkatan konsumsi rumah tangga, yang pada akhirnya turut menggerakkan perekonomian lokal. Bagi banyak keluarga, kiriman uang tersebut sering menjadi sumber pemasukan informal yang membantu mereka tetap memenuhi kebutuhan dasar, terutama saat kondisi ekonomi sedang sulit.
Lembaga internasional seperti IFAD (International Fund for Agricultural Development) juga mencatat bahwa remitansi memberi dorongan positif untuk menurunkan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, terutama di wilayah pedesaan dan daerah asal pekerja migran.
3. Mendukung Pembangunan Modal Manusia (Human Capital)

Selain untuk kebutuhan harian, remitansi juga banyak dialokasikan untuk investasi jangka panjang, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan. Biaya sekolah, kuliah, hingga layanan medis terkadang dibiayai dari dana remitansi yang dikirim anggota keluarga di luar negeri.
Dalam jangka panjang, penggunaan remitansi untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut akan berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber manusia (human capital), seperti peningkatan skill, jenjang pendidikan, dan kesehatan tenaga kerja. Masyarakat yang lebih terdidik dan sehat cenderung lebih produktif dan siap bersaing, sehingga menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
4. Memperkuat Sektor Keuangan dan Usaha Mikro

Remitansi juga berperan dalam mendorong inklusi keuangan, yaitu ketika melebarnya akses untuk menikmati produk dari jasa keuangan karena semakin banyak masyarakat yang ingin menggunakan layanan keuangan formal (seperti rekening bank, tabungan). Dorongan dari kebutuhan menerima dana remitansi membuat keluarga penerima lebih terbiasa berinteraksi dengan sistem perbankan.
Selain itu, sebagian dana remitansi dimanfaatkan sebagai modal awal usaha mikro dan kecil, seperti membuka warung atau usaha keluarga. Praktik ini membantu menciptakan lapangan kerja di tingkat lokal, memperluas sumber ekonomi daerah, dan memperkuat struktur ekonomi dari bawah.
Di banyak negara berkembang, remitansi terbukti membantu meningkatkan tabungan domestik dan memperluas akses pembiayaan, sehingga sektor keuangan menjadi lebih kuat dan tahan terhadap guncangan, seperti akibat kelumpuhan ekonomi, ketidakstabilan politik maupun saat situasi bencana alam.
Itulah empat peran utama remitansi dalam memperkuat perekonomian nasional. Namun perlu diingat bahwa dampak besar tersebut tentu tidak terjadi tanpa peran para pelaku yang terlibat langsung dalam aktivitas remitansi lintas negara.
Pihak yang Berkontribusi dalam Aliran Remitansi

Dalam setiap transaksi remitansi, ada banyak pihak yang ikut berperan menjaga aliran uang lintas negara berjalan lancar dan aman. Berikut adalah berbagai pihak yang memiliki peran penting dalam remitansi:
- Pelaku remitansi: Baik pengirim dan penerima, mereka adalah pihak yang paling berperan penting karena terlibat langsung dalam transaksi remitansi. Contohnya seperti para pekerja migran yang menjadi pahlawan devisa, ekspatriat, pelajar internasional, hingga para importir, eksportir, dan investor yang melakukan ekspansi bisnis ke pasar global.
- Penyedia jasa remitansi (bank/nonbank) & partner perantara: Tanpa pihak yang menyediakan jasa remitansi, transaksi lintas negara tidak akan bisa mudah dilakukan seperti saat ini. Bahkan sekarang dengan semakin tingginya kebutuhan remitansi, jasa remitansi dituntut untuk terus berkembang dan relevan sesuai perkembangan zaman. Contohnya seperti Topremit, aplikasi pengiriman uang dari Indonesia yang telah berdiri selama 16 tahun dan mampu tetap relevan bagi kebutuhan penggunanya.
- Pihak Regulator dan Pengawas: Lembaga keuangan atau agen pemerintah yang memastikan transaksi remitansi berjalan sesuai hukum, aman, dan legal untuk digunakan pelaku remitansi.
Setiap pihak yang terlibat dalam transaksi remitansi memiliki peran yang sama bobotnya untuk memastikan transaksi remitansi berjalan lancar dan bermanfaat bagi ekonomi nasional. Untuk itu, dibutuhkannya dukungan yang maksimal dari tiap pihak untuk memastikan remitansi berjalan dengan sistem, regulasi, dan layanan yang memadai.
Optimalisasi Peran Remitansi bagi Perekonomian
Agar peran remitansi semakin optimal, dibutuhkan dukungan nyata baik dari regulator maupun jasa keuangan yang terlibat untuk memberi kenyamanan dan keamanan bagi pengguna remitansi. Contoh dukungan dapat berupa digitalisasi bertahap pada layanan remitansi disertai edukasi remitansi dan keuangan yang merata ke masyarakat. Hal tersebut menjadi faktor penting untuk mempercepat transaksi, menurunkan biaya pengiriman dana, dan memperluas akses masyarakat ke layanan keuangan formal.
Penguatan regulasi pemerintah dan pengawasan oleh otoritas keuangan negara (kalau di Indonesia seperti Bank Indonesia) juga berperan penting untuk memastikan remitansi dilakukan melalui jalur resmi dan transparan. Salah satu contoh dari dukungan nyata terhadap remitansi yang bisa kita apresiasi dan terapkan dapat dilihat dari bagaimana negara India melakukan ekspansi besar-besaran agar sistem pembayaran instan mereka, UPI (Unified Payments Interface), bisa digunakan di luar negeri. Alhasil, sudah ada lebih dari 600 ribu transaksi terbentuk untuk pengiriman uang ke India dengan total transaksi mencapai INR 169,29 crore (sekitar IDR 315 miliar). Data tersebut masih hanya di periode 4 bulan saja (April-Juli 2025). Ini menjadi bukti nyata bahwa remitansi dapat memberi dampak lebih jauh apabila memiliki sistem yang mendukung baik dari regulasi dan teknologi.
Namun, perlu diperhatikan bahwa remitansi yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi adalah remitansi yang berizin resmi dari lembaga keuangan negara. Jadi, saat bertransaksi lintas negara, pastikan untuk menggunakan remitansi yang sudah ada lisensi resmi dari lembaga keuangan negara, sehingga jasa tersebut mampu memastikan transaksi lintas negara penggunanya aman sampai ke tujuan transfer. Manfaatnya bukan hanya terasa kepada penerima namun berguna untuk devisa negara.
Sebaliknya, remitansi ilegal mungkin menawarkan promo besar untuk memancing calon pengguna, namun tentu tidak bisa menjamin keamanan pengiriman uang pengguna karena transaksinya tersembunyi dari lembaga keuangan yang bertindak sebagai pengawas.
Jadi, yuk lebih cermat memilih jasa remitansi yang resmi agar setiap transaksi lintas negara jadi lebih memberi arti.
Referensi
- Apa Itu Remitansi? Arti, Fungsi & Panduan Lengkapnya (2025) | Topremit.com
- Remittance Flows Continue to Grow in 2023 Albeit at Slower Pace | World Bank Group
- Pengaruh Aliran Masuk Devisa Tenaga Kerja (Workers’ Remittances) Terhadap Nilai Tukar Rupiah | Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal
- Remitansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Menurut Negara Penempatan (Juta USD) | Bank Indonesia
- Migrant remittances and diaspora finance for climate resilience | IFAD
- Contribution of Migrant Workers in Increasing Remittances and Accelerating the SDGs : A Country Without Unemployment | APPIHI
- Remittances: A Lifeline for Development | IMF
- Cross-border UPI Transactions Reach 6.01 Lakh In Four Months | BW Businessworld
- World Economic Situation and Prospects: November 2025 Briefing, No. 196 | UN Department of Economic and Social Affairs
Read more



