Mengenal Kode HS (HS Code) pada Barang Ekspor dan Impor
Yuk, kenali apa itu HS Code dan kenapa penting untuk impor. Pahami fungsi hingga cara cek kode HS agar terhindar dari kesalahan saat impor produk
Mengenal Kode HS (HS Code) pada Barang Ekspor dan Impor
HS Code atau kode HS (Harmonized System) adalah kode yang digunakan untuk mengklasifikasi barang internasional berdasarkan jenis dan karakteristiknya. HS Code berperan sangat penting dalam transaksi internasional karena apabila ada kesalahan penulisan atau pemilihan HS Code bisa berujung pada biaya tambahan, keterlambatan pengiriman, bahkan penahanan barang di bea cukai.
Yuk, pahami lebih tentang HS Code dan perannya dalam transaksi impor.
Pengertian Kode HS (HS Code)
HS Code adalah sistem penomoran terstandarisasi untuk mengelompokkan berbagai barang perdagangan dunia. HS Code difungsikan untuk mempermudah menetapkan tarif, mencatat transaksi perdagangan, mengontrol transportasi, dan melaporkan data statistik perdagangan.
HS Code ini sudah disusun sejak 1986 oleh World Customs Organization atau organisasi bea cukai dunia. Indonesia sendiri mengesahkan sistem klasifikasi ini bagi para importir dan eksportir melalui KEPPRES No.35 tahun 1993. Setiap produk ekspor-impor juga sudah diterjemahkan ke dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTMI) beserta daftar tarif pajak impornya per produk.
Cara Membaca HS Code
HS Code secara internasional hanya memiliki 6 digit angka. Namun, setiap negara dapat menambahkan sub angka untuk menspesifikasikan kategori, sesuai kebijakan yang berlaku di negara masing-masing.
Di Indonesia, HS Code tersusun atas 8 digit angka, mengikuti AHTN (ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature) dari ASEAN. Berikut cara membacanya:
Contoh:

HS Code untuk produk “Pakaian” adalah: 42031000
- ‘42’: 2 digit pertama -> Kategori utama barang
- ‘03’: 2 digit berikutnya -> Sub Kategori dalam bab barang
- ‘10’: 2 digit selanjutnya -> Spesifikasi produk yang lebih detail
- ‘00’: 2 digit terakhir -> Penambahan berdasarkan sistem AHTN (ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature) yang digunakan Indonesia.
Jadi, saat membeli produk, perlu untuk mengetahui secara spesifik bahan, jenis, dan kategori produk yang kita pesan. Semakin tepat HS Code yang digunakan, semakin akurat pula perhitungan pajak dan pemeriksaan fisik barang.
Cara Mencari HS Code Lewat Situs Kementerian Keuangan
HS Code dapat ditemukan di beberapa situs resmi, termasuk milik Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Nah, di bawah ini langkah-langkah untuk mencari tahu HS Code lewat situs Kementrian Keuangan.
1. Masuk ke situs Kementrian Keuangan https://insw.go.id
2. Klik pada bagian “INTR”

3. Tulis kata kunci produk di kolom pencarian kode HS. Contoh: Pakaian

4. Tekan ‘Enter’ atau klik ‘🔍’untuk melihat uraian produk.
5. Deretan klasifikasi produk terkait ‘Pakaian’ akan muncul di bawahnya.

Peran HS Code dalam Perdagangan Internasional
Dalam praktik impor, HS Code bukan hanya sekadar informasi kategori produk, tapi menjadi syarat utama dalam pemeriksaan kepatuhan regulasi dan dibutuhkan dalam dokumen impor. Hampir seluruh proses administrasi bea cukai, mulai dari perizinan hingga perhitungan pajak mengacu pada HS Code yang digunakan. Ini dia berbagai peran HS Code dalam transaksi internasional.
Dasar Penentuan Regulasi Barang
HS Code digunakan oleh pemerintah untuk menentukan apakah suatu barang termasuk kategori bebas impor, barang larangan atau pembatasan (lartas), atau memerlukan izin tambahan seperti Persetujuan Impor (PI), sertifikasi teknis, atau standar keamanan tertentu.
Satu jenis barang dengan HS Code berbeda bisa dikenakan aturan yang sangat berbeda pula. Karena itu, kesalahan HS Code tidak hanya berdampak pada pajak, tapi juga pada legalitas barang.
Acuan Utama dalam Dokumen Impor
HS Code dicantumkan di berbagai dokumen impor dan harus tetap konsisten isinya. Berikut adalah beberapa dokumen impor yang membutuhkan HS Code:
- Commercial Invoice -> Info HS Code didalamnya digunakan sebagai dasar perhitungan bea masuk dan pajak impor.
- Packing List -> Info HS Code di sini dipakai untuk mencocokkan data administratif dengan fisik barang.
- PIB (Pemberitahuan Impor Barang) -> dokumen deklarasi resmi ke Bea Cukai (di sini HS Code berperan sebagai bagian dari identitas barang).
- Certificate of Origin (COO) -> HS Code di sini dipakai untuk menentukan tarif preferensi dalam perjanjian dagang. Contohnya, apakah produknya termasuk kategori barang dalam FTA (Free Trade Agreement).
Baca juga: Catat! Ini 12 Dokumen Wajib untuk Bisnis Impor Kamu
Saat barang sampai ke dalam negeri, pihak bea cukai akan melakukan pemeriksaan berdasarkan kesesuaian HS Code di seluruh dokumen di atas. Kalau ditemukan ada perbedaan, proses customs clearance bisa tertunda.
Penentu Nilai Pajak Impor
Hampir seluruh jenis atau kategori barang yang masuk dari luar ke dalam negeri dipungut biaya oleh pihak Direktorat Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Berikut beberapa jenis pajak yang nilainya mengacu pada HS Code produk:
Bea Masuk
HS Code menentukan tarif bea masuk (%) secara langsung. Begitu HS Code beda 1 digit saja, tarifnya bisa langsung berbeda jauh. Oleh karena itu, hindari salah memasukkan HS Code karena bisa berakibat salah menerka tarif bea masuk dan akhirnya dikenai denda.
PPN (Pajak Pertambahan Nilai) Impor
HS Code tidak menentukan tarif PPN, tapi menentukan apakah produk akan dikenakan PPN atau tidak. Fungsi HS Code di sini untuk menentukan apakah produk masuk kategori PPN normal, PPN dibebaskan, atau PPN tidak dipungut.
PPh (Pajak Penghasilan) Pasal 22 Impor
Ini merupakan pajak penghasilan yang dibayar di awal saat impor. Fungsi HS Code di sini untuk menentukan apakah produk terkena pajak ini atau dikecualikan.
Bea Masuk Tambahan (BMAD/BMTP)
Untuk bea masuk tambahan ini, HS Code dipakai untuk menandai barang yang kena kebijakan proteksi BMAD (Bea Masuk Anti Dumping), atau BMTP (Bea Masuk Tindakan Pengamanan).
Bea Keluar (Ekspor)
Dalam hal ekspor produk, bea keluar biasanya hanya digunakan untuk produk tertentu. Fungsi HS Code di sini untuk menentukan apakah barang ekspor kena bea keluar atau bebas ekspor.
Dampak Jika HS Code Tidak Tepat

Dalam regulasi dan transaksi ekspor-impor, satu digit yang keliru bisa berdampak langsung pada waktu, biaya, serta kelancaran arus barang. Berikut dampak yang paling sering terjadi di lapangan.
Revisi Dokumen dan Pengajuan Ulang PIB (Pemberitahuan Impor Barang)
Penggunaan HS Code yang tidak tepat dapat menyebabkan dokumen PIB harus direvisi karena tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan dari Bea Cukai. Importir perlu mengajukan perubahan data, menyesuaikan dokumen pendukung seperti commercial invoice dan packing list, serta melakukan penghitungan ulang bea masuk dan pajak impor. Selama proses revisi dan persetujuan belum selesai, status kepabeanan barang belum dapat dituntaskan sehingga proses impor akan tertahan.
Penundaan Pengeluaran Barang dari Pelabuhan atau Bandara
HS Code yang keliru dapat mengubah jalur pemeriksaan kepabeanan, misalnya dari jalur hijau yang minim pemeriksaan menjadi jalur kuning atau bahkan jalur merah yang memerlukan pemeriksaan lebih ketat. Hal ini menyebabkan barang tidak bisa segera dikeluarkan karena harus menunggu klarifikasi dan pengecekan ulang dokumen. Penundaan ini tentu akan memakan waktu dan berdampak langsung pada kegiatan bisnis kamu.
Biaya Tambahan Penyimpanan dan Administrasi
Ketika barang tertahan akibat kesalahan HS Code, importir akan menanggung biaya tambahan seperti biaya penumpukan di pelabuhan atau bandara, biaya denda akibat lamanya barang diambil melebihi batas waktu gratisnya. Selain itu, jika HS Code yang benar memiliki tarif lebih tinggi, importir juga harus membayar kekurangan bea masuk dan pajak impor. Akumulasi biaya ini sering kali jauh lebih besar dibandingkan selisih tarif akibat kesalahan klasifikasi awal. Akhirnya keseluruhan biaya impor menjadi diluar perkiraan.
Pemeriksaan Fisik Lanjutan oleh Bea Cukai
Ketidaksesuaian HS Code dengan deskripsi barang dapat memicu pemeriksaan fisik oleh Bea Cukai untuk memastikan jenis dan karakteristik barang yang diimpor. Pemeriksaan ini dapat mencakup pembukaan kemasan, pengecekan detail barang, hingga pengambilan sampel. Proses tersebut membutuhkan waktu dan koordinasi tambahan, sehingga semakin memperpanjang waktu penyelesaian impor.
Risiko Sanksi Administratif
Importir berisiko dikenai sanksi administrasi dari Bea Cukai jika kesalahan memasukkan HS Code terus berulang. Selain denda, riwayat ketidakpatuhan ini dapat meningkatkan tingkat pengawasan pada impor berikutnya, yang berpotensi membuat proses clearance menjadi lebih ketat dan kompleks di masa mendatang.
Nah itu dia alasan mengapa HS Code sangat penting untuk kamu perhatikan saat melakukan kegiatan ekspor-impor. Yuk, save informasi ini untuk membantu transaksi internasional kamu.
Referensi
- Registrasi Kepabeanan | Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
- Mau Impor Barang? Pelajari Dulu Custom Clearance! | Topremit
- Harmonisation of Tariff Nomenclature, Customs Valuation and Procedures | ASEAN.org
- Catat! Ini 12 Dokumen Wajib untuk Bisnis Impor Kamu | Topremit
- Indonesia National Trade Repository | Kementerian Keuangan
Read more





