Tips Memulai Bisnis Impor Untuk Pemula ala Topremit
Banyak orang yang mungkin berpikir memulai bisnis impor itu rumit, seperti harus berburu supplier yang sesuai di luar negeri, perlu bekerja sama dengan jasa ekpedisi, hingga mengurus berbagai dokumen untuk keamanan usaha dan proses impor.
Padahal prosesnya tidak seribet itu. Yang terpenting adalah mempertimbangkan dengan matang pilihan produk untuk usaha kita dan memahami alur dasar impor. Yuk, lihat tips-tips khusus pemula di bawah ini agar persiapan kamu lebih matang untuk memulai usaha.
1. Riset Pasar & Tentukan Produk yang Jelas
Dalam bidang impor, riset pasar merupakan langkah awal yang penting supaya produk yang kamu impor tetap laku dan tidak menumpuk di gudang. Agar riset pasar kamu berjalan dengan lancar, berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan:
- Tentukan target pembeli yang spesifik: Pasangan muda? Pemilik apartemen? Orang tua yang punya anak rentan alergi? Semakin spesifik target pembeli semakin mudah menentukan kebutuhannya.
- Validasi kebutuhan konsumen: Cari tahu apa yang sedang dicari target konsumen kamu. Bisa riset dari marketplace, media sosial, atau Google Trends.
- Identifikasi produk yang laris: Misalnya, perangkat smart home, skincare, hingga peralatan bayi. Pastikan penjualannya stabil, bukan sekadar tren sesaat.
- Tentukan jenis produk yang ingin kamu impor: Semakin spesifik segmen produk yang kamu pilih, semakin mudah untuk membangun identitas brand usaha. Misalnya, kamu fokus memilih jualan Air Purifier yang portable saja.
- Riset kompetitor: Pelajari harga jual, ulasan pembeli, kualitas produk, dan cara mereka memasarkannya. Cari nilai lebih dari produk yang kamu pilih agar bisa bersaing.
Dengan cara seperti ini, kamu nggak cuma “asal ingin impor barang yang laku”, tapi punya gambaran siapa yang bakal beli dan alasan kenapa mereka pilih produk kamu.
2. Cari Supplier yang Tepat
Menemukan supplier yang tepat adalah tahap yang paling tricky. Tapi kalau tahu caranya, kamu bisa dapat pemasok yang menawarkan harga murah, kualitas bagus, dan pengirimannya aman.
Berikut beberapa yang perlu kamu lakukan untuk memilih supplier yang aman dan murah:
- Cari supplier tangan pertama (manufacturer/pabrik)
Kalau langsung beli dari pabrik, otomatis harga barang jauh lebih murah. Informasi supplier ini bisa kamu cari dari platform/marketplace negara tempat kamu mau impor barang, misalnya kalau di China, kamu bisa cari dari Alibaba atau Taobao.
- Cek reputasi & review
Supplier tepercaya biasanya punya rating tinggi, banyak transaksi, dan memiliki review lengkap serta foto asli dari pembeli. Kalau review-nya penuh komplain soal kualitas atau pengiriman, lebih baik cari yang lain.
- Minta sampel sebelum order besar
Sampel itu sangat penting kamu minta agar bisa mengecek langsung kualitas barang, bahan, dan ukuran real dari produk. Jadi, kamu tidak merasa tertipu saat memesan barang. Jangan langsung pesan apalagi dalam jumlah banyak karena harganya murah, ya.
- Bandingkan beberapa supplier
Minimal bandingkan 3–5 supplier di produk yang sama. Bandingkan mulai dari harga, kuantitas pesanan minimum, fleksibilitas negosiasi, dan kecepatan respon. Ini membantu kamu tahu mana yang paling efisien untuk jangka panjang. Pilih supplier yang cepat dan jelas saat komunikasi. Pastikan juga detail seperti packing, garansi, dan metode pembayaran.
- Pastikan supplier & produk yang dijual punya standar keamanan
Terutama untuk elektronik, makanan, dan perangkat rumah tangga pastikan berlabel aman. Jadi, kamu bisa memastikan produk yang dijual tidak abal-abal dan aman untuk diedarkan di Indonesia. Misalnya untuk sertifikat alat elektronik yang umum dari beberapa negara seperti PSE (Product Safety Electrical Appliance & Material) dari Jepang, CCC (China Compulsory Certification) dari China, dan UL (Underwriters Laboratories) dari Amerika Serikat.
3. Kenali Alur Regulasi Dasar Impor
Menjadi importir resmi artinya kamu harus taat pada aturan bea cukai dan perizinan. Nah, di bawah ini adalah urutan dokumen yang perlu kamu siapkan dalam proses impor:
- NIB (Nomor Induk Berusaha): Identitas resmi bisnis kamu. Bisa dibuat lewat OSS.
- API (Angka Pengenal Importir): Identitas kamu sebagai importir. Kamu bisa registrasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)
- NIK (Nomor Induk Kepabeanan): Kamu butuh ini untuk mengakses sistem Bea Cukai & melakukan customs clearance.
- Invoice dari Supplier: Kalau sudah membeli produk, invoice penting diikutsertakan, lembaran ini berisi harga barang, jumlah, dan nilai transaksi.
- Bill of Lading/Airway Bill: Adalah dokumen pengiriman resmi dari jalur laut/udara.
- HS Code: adalah kode internasional yang menentukan jenis barang saat sudah tiba di negara tujuan. Ini menentukan berapa tarif pajak yang harus kamu bayar
Tips untuk pemula! Kamu bisa minta bantuan freight forwarding agar proses ini lebih sederhana. Mereka biasanya bisa membantu kamu mengurus banyak dokumen pengiriman.
Selain itu, kamu juga perlu tahu apakah produk kamu termasuk barang larangan/pembatasan. Kalau produk masuk kategori ini, konsultasikan ke forwarder sebelum beli barang.
4. Pilih Jasa Pengiriman yang Aman
Setiap produk dan strategi impor membutuhkan jenis pengiriman yang berbeda. Kargo laut lebih murah dan cocok untuk volume besar, tetapi lebih lama. Kargo udara lebih cepat, meski lebih mahal. Ada pula forwarder yang menawarkan layanan all-in termasuk pengurusan pajak dan customs clearance.
Brand logistik internasional seperti DHL, FedEx, UPS, Japan Post/EMS, atau forwarder besar seperti Yusen Logistics dan beberapa penyedia forwarder Indonesia yang kredibel bisa menjadi pilihan. Semakin tepercaya penyedia logistik, semakin kecil risiko barang hilang atau tertahan.
5. Susun Rencana Bisnis yang Matang
Rencana bisnis tidak hanya membantu kamu mengatur modal, tapi juga memastikan keberlanjutan usaha. Nah, setelah menentukan produk mana yang mau kamu jual dan jasa ekspedisi yang kamu mau, kamu sudah bisa mempersiapkan berbagai hal di bawah ini.
- Modal usaha
Meliputi biaya pembelian barang, ongkos kirim, hingga cadangan modal darurat apabila ada fluktuasi kurs atau biaya administrasi lainnya.
- Pembayaran pajak
Ada 3 jenis pajak yang dikenakan untuk usaha impor yaitu Bea Masuk, PPN (Pajak Pertambahan Nilai), dan PPh (Pajak Penghasilan)
- Marketing & promosi
Di tahap pemasaran, fokus terbaik adalah menggabungkan kekuatan marketplace dan media sosial. Manfaatkan marketplace seperti Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop serta media sosial untuk memberi visibilitas tinggi terhadap produk impor kamu.
- Sistem pembayaran luar negeri
Sistem pembayaran yang biasa dipakai untuk transaksi impor adalah remitansi, L/C (Letter of Credit), dan Telegraphic Transfer. Ketiga jenis sistem pembayaran ini sama-sama aman dan tepercaya. Jadi, kamu hanya perlu memilih layanan yang paling cocok untuk kebutuhan kamu. Contohnya untuk remitansi, kamu bisa memilih Topremit, karena dengan aplikasi ini kamu bisa transfer uang dalam jumlah besar dan berkali-kali cuma dari HP saja. Transfernya juga instan dan transaksi kamu dijamin aman karena Topremit sudah diakui oleh Bank Indonesia.
Nah, itu dia tips lengkap yang bisa kamu terapkan untuk memulai bisnis impor. Gak seribet itu kan? Apalagi kalau kamu mengikuti tips ini, tentu proses memulai usaha kamu akan jauh lebih mudah.
Save & share tips ini sebagai panduan kamu, ya!
Referensi:
- Tips Memulai Bisnis Ekspor Impor bagi pemula | IBI Kwik Kian Gie
- Ingin Jadi Eksportir atau Importir? Kenali Terlebih Dahulu Tentang Freight Forwarding | Topremit
- Mau Impor Barang? Pelajari Dulu Custom Clearance! | Topremit
- Barang-Barang yang Dilarang ketika Impor Barang (Lartas Impor) | Topremit