Update 10 Produk Vietnam yang Banyak Diimpor Indonesia: Pasti Cuan!
Apa saja produk Vietnam yang banyak diimpor Indonesia? Cek 10 produk berdasarkan data BPS, nilai impor, tren terbaru, dan aturan impornya.
Ringkasan Utama
- Elektronik dan komponennya menjadi kategori impor terbesar dari Vietnam pada 2025, sekitar USD 881,4 juta, disusul kendaraan dan komponen sekitar USD 661,8 juta serta plastik sekitar USD 443,8 juta.
- Selain kategori besar, beberapa produk menunjukkan pertumbuhan menarik pada Januari-Juli 2026, terutama kacang mede, mainan, alat pancing, dan perlengkapan olahraga, serta furnitur berlapis.
- Banyak impor dari Vietnam bukan berupa barang jadi, tetapi bahan baku dan komponen industri, seperti komponen elektronik, plastik PP/PE, bagian alas kaki, serta suku cadang kendaraan.
- Sebelum menentukan produk, penting untuk mengecek HS Code dan regulasi impornya, karena tiap barang dapat memiliki persyaratan berbeda seperti SNI, BPOM, karantina, LS, hingga SUT/SRUT.
- Perhitungan impor juga harus mencakup harga barang, ongkos kirim, bea masuk, pajak, biaya pengurusan, dan biaya pembayaran ke supplier agar total biaya bisnis lebih akurat.
Vietnam bukan cuma dikenal sebagai destinasi wisata. Negara ini juga menjadi salah satu sumber berbagai produk yang diimpor Indonesia, mulai dari alas kaki hingga komponen kendaraan.
Kalau kamu sedang mencari produk baru untuk diimpor dari Vietnam, data perdagangan internasional bisa membantu kamu melihat kategori yang sudah memiliki permintaan dan arus impor nyata ke Indonesia.
Nah artikel ini sudah merangkum 10 produk Vietnam yang banyak diimpor ke Indonesia berdasarkan data BPS 2025-2026 dan perkembangan impor terbaru.
Dari data tersebut, ada beberapa kategori produk dengan nilai impor yang sudah besar dan ada juga kategori produk yang sedang menunjukkan pertumbuhan menarik pada 2026.
Yuk, langsung cek daftar produk-produknya di bawah ini!
10 Produk Vietnam yang Banyak Diimpor Indonesia

Daftar produk di sini disusun berdasarkan data impor BPS 2025-2026 serta perkembangan terbaru impor dari Vietnam ke Indonesia.
Lima produk pertama di daftar ini merupakan kategori produk dengan nilai impor terbesar sepanjang 2025 sampai Juli 2026, yang sebagian besar berupa bahan baku dan komponen industri.
Sementara itu, lima produk berikutnya adalah kategori yang menunjukkan pertumbuhan impor cukup tinggi di tahun 2026 ini dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Cek di bawah ini.
1. Elektronik dan Komponennya

Nilai impor 2025: sekitar USD 881,4 juta
Elektronik dan komponennya menjadi salah satu kategori impor terbesar Indonesia dari Vietnam sepanjang 2025. Nilainya mencapai sekitar USD 881,4 juta atau 14,3% dari total impor Indonesia dari Vietnam.
Trennya juga masih cukup kuat. Pada Januari-Juli 2026, nilai impornya tercatat naik sekitar 25% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Hal ini tidak terlalu mengejutkan karena Vietnam memang sudah menjadi salah satu basis produksi elektronik dunia. Pada 2025, ekspor komputer, elektronik, dan komponennya bahkan mencapai USD 107,7 miliar.
Beberapa produk yang paling banyak masuk ke Indonesia antara lain:
- Komponen ponsel dan papan sirkuit rakitan (sekitar USD 256,0 juta)
- Panel layar TV dan monitor (sekitar USD 85,8 juta)
- Suku cadang perangkat audio-video dan kamera (sekitar USD 71,8 juta)
Namun, sebagian besar nilai tersebut berasal dari komponen, bukan gadget jadi. Jadi, jika bisnismu bergerak di bidang perusahaan manufaktur, perakit, atau distributor komponen, maka produk-produk hasil rakitan dari Vietnam ini bisa kamu pertimbangkan.
Untuk proses impornya, kamu juga perlu memperhatikan jenis barang yang dibeli.
Perangkat telekomunikasi tertentu membutuhkan sertifikat perangkat dari Kementerian Komunikasi dan Digital (SDPPI), sedangkan sejumlah peralatan listrik juga wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk memastikan keamanan pengguna.
2. Kendaraan dan Komponennya

Nilai impor 2025: sekitar USD 661,8 juta
Kategori kendaraan dan komponennya mencatat nilai impor sekitar USD 661,8 juta sepanjang 2025 atau sekitar 10,8% dari total impor Indonesia dari Vietnam.
Menariknya, sekitar 75% dari nilai tersebut berasal dari satu jenis produk, yaitu mobil listrik utuh dengan nilai sekitar USD 505,0 juta.
Namun, pada Januari-Juli 2026, nilai impor kendaraan dan komponennya turun sekitar 51% dibanding periode yang sama pada 2025. Khusus mobil listrik utuh, penurunannya bahkan mencapai sekitar 89% setelah insentif impor mobil listrik utuh berakhir pada 31 Desember 2025.
Di sisi lain, beberapa produk otomotif lainnya justru masih tumbuh, seperti:
- Sepeda motor (sekitar USD 66,2 juta, naik 22%)
- Suku cadang kendaraan seperti komponen airbag (sekitar USD 59,5 juta, naik 48%)
Pada Januari-Juli 2026, nilai impor kendaraan dan komponennya turun sekitar 51% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus mobil listrik utuh, penurunannya bahkan mencapai sekitar 89%.
Di sisi lain, beberapa produk otomotif lainnya justru masih tumbuh, seperti:
- Sepeda motor (sekitar USD 66,2 juta pada 2025, naik 22% pada Januari–Juli 2026).
- Suku cadang kendaraan, termasuk komponen airbag (sekitar USD 59,5 juta pada 2025, naik 48% pada Januari-Juli 2026).
Arah industrinya pun mulai bergeser dari impor kendaraan utuh ke perakitan lokal di Indonesia.
VinFast, misalnya mulai merakit kendaraan di Subang, Jawa Barat. Sementara itu, motor listriknya masih diimpor secara utuh.
Karena itu, kalau kamu sedang berbisnis di kategori otomotif, komponen dan kebutuhan pendukung perakitan bisa menjadi produk yang lebih realistis dipesan saat ini dari Vietnam dibanding langsung mengimpor kendaraan utuh.
Beberapa produsen besar yang bisa kamu temukan di Vietnam adalah VinFast, Honda Vietnam, dan Yamaha Motor Vietnam.
Untuk kendaraan utuh, proses impornya tergolong lebih kompleks karena terdapat persyaratan seperti Sertifikat Uji Tipe (SUT) dan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT).
Sementara itu, suku cadang perlu dicek berdasarkan HS Code masing-masing karena ketentuannya bisa berbeda antar produk. Kamu bisa cek HS Code produk yang mau kamu pesan dulu di situs resmi INSW.
3. Plastik dan Barang dari Plastik

Nilai impor 2025: sekitar USD 443,8 juta
Plastik dan barang dari plastik mencatat nilai impor sekitar USD 443,8 juta pada 2025 atau 7,2% dari total impor Indonesia dari Vietnam.
Pada Januari-Juli 2026, nilainya juga masih tumbuh sekitar 24%.
Kategori ini banyak dibutuhkan sebagai bahan baku berbagai industri, mulai dari kemasan, produk rumah tangga, otomotif, sampai tekstil sintetis.
Beberapa jenis yang paling banyak diimpor adalah:
- Polipropilena atau PP (sekitar USD 158,2 juta)
- Polietilena atau PE (sekitar USD 71,1 juta)
- Lembaran serta film plastik (sekitar USD 51,9 juta)
Produk PE, nilai impornya naik drastis loh! Sekitar 270% pada Januari-Juli 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
PP dan PE umumnya masuk dalam bentuk butiran atau pelet, sehingga target pembelinya lebih banyak berasal dari pabrik kemasan, produsen plastik, atau distributor bahan baku.
Kalau kamu tertarik dengan kategori ini, spesifikasi dan grade produk biasanya jauh lebih penting daripada mereknya.
Karena itu, minta supplier memberikan Certificate of Analysis (CoA) dan Material Safety Data Sheet (MSDS) sebelum melakukan pembelian.
Beberapa perusahaan di industri petrokimia Vietnam antara lain Long Son Petrochemicals, Hyosung Vina Chemicals, Nghi Son Refinery and Petrochemical, dan Binh Son Refining and Petrochemical. Ada juga Stavian yang dikenal sebagai salah satu distributor polimer besar di Vietnam.
Untuk persyaratan impornya, tetap cek HS Code melalui INSW lalu ikuti regulasi Permendag 16/2025 terupdate untuk pembatasan produk berbahan plastik.
4. Mesin dan Peralatan Mekanik

Nilai impor 2025: sekitar USD 421,2 juta
Mesin dan peralatan mekanik juga termasuk kategori besar dengan nilai impor sekitar USD 421,2 juta pada 2025 atau sekitar 6,9% dari total impor Indonesia dari Vietnam.
Pada Januari-Juli 2026, nilainya masih naik sekitar 7%.
Namun, kategori ini sangat luas karena terdiri dari sekitar 520 jenis kode barang. Bahkan lima produk terbesarnya hanya menyumbang sekitar 30% dari keseluruhan nilai kategori.
Beberapa produk yang paling banyak masuk antara lain:
- Katup dan keran (sekitar USD 58,0 juta)
- Suku cadang mesin kantor dan komputer (sekitar USD 45,6 juta)
- komputer dan perlengkapannya seperti mouse dan laptop (sekitar USD 42,7 juta)
Salah satu yang cukup menarik adalah produk komputer dan perlengkapannya karena nilai impornya naik sekitar 93% pada Januari-Juli 2026.
Karena produknya sangat beragam, cara mencari supplier untuk kategori ini juga berbeda dengan produk konsumsi.
Sebaiknya tentukan terlebih dahulu jenis mesin atau komponen yang kamu incar, misalnya katup untuk industri, komponen komputer, atau mesin tertentu. Setelah itu, baru cari dan verifikasi produsen yang memang memiliki spesialisasi pada produk tersebut.
Untuk proses impornya, persyaratan akan bergantung pada HS Code dan jenis mesin. Produk tertentu dapat memiliki kewajiban SNI atau ketentuan teknis dari Kementerian Perindustrian.
Kalau membeli mesin untuk kebutuhan bisnis, pertimbangkan juga garansi, ketersediaan suku cadang, dan layanan setelah pembelian.
5. Alas Kaki dan Bagiannya

Nilai impor 2025: sekitar USD 399,6 juta
Vietnam sudah lama dikenal sebagai salah satu pusat industri alas kaki dunia. Bahkan negara ini merupakan salah satu eksportir alas kaki terbesar secara global.
Nilai impor alas kaki dan bagiannya dari Vietnam ke Indonesia mencapai sekitar USD 399,6 juta pada 2025 dan masih tumbuh sekitar 16% pada Januari-Juli 2026.
Beberapa produk yang paling banyak masuk adalah:
- Bagian alas kaki seperti sol dan upper (sekitar USD 206,1 juta)
- Sepatu olahraga dan kasual dengan bagian atas tekstil (sekitar USD 97,7 juta)
- Sepatu dengan sol dan bagian atas karet atau plastik (sekitar USD 51,3 juta)
Menariknya, lebih dari separuh nilai kategori ini berasal dari komponen alas kaki.
Hal tersebut cukup masuk akal karena Indonesia sendiri memiliki industri manufaktur sepatu yang besar. Jadi, sebagian komponen asal Vietnam kemungkinan digunakan sebagai bagian dari proses produksi di dalam negeri.
Selain komponen, kamu juga bisa menjajaki produk OEM (private label), atau alas kaki tanpa merek dari produsen Vietnam.
Beberapa manufaktur besar yang beroperasi di sana antara lain Pou Chen/Pouyuen, Taekwang Vina, Chang Shin Vietnam, dan Feng Tay.
Kalau menemukan produk bermerek yang dijual sebagai stock lot (bahan sisa) atau overrun (kelebihan produksi), tetap berhati-hati. Pastikan supplier memang memiliki hak untuk menjual produk tersebut agar tidak menimbulkan masalah hak kekayaan intelektual saat barang masuk Indonesia.
Untuk proses impornya, Kementerian Perdagangan telah melonggarkan sejumlah aturan impor alas kaki. Namun, Laporan Surveyor (LS) dan SNI masih dapat berlaku untuk kategori tertentu, sehingga HS Code produk tetap perlu dicek melalui INSW.
6. Kopi Instan dan Olahan Kopi

Nilai impor 2025: sekitar USD 130 juta untuk kelompok olahan kopi
Vietnam merupakan produsen kopi terbesar kedua dunia sekaligus salah satu produsen robusta terbesar.
Jadi, tidak heran kalau berbagai produk kopi asal Vietnam juga banyak masuk ke Indonesia.
Salah satu produk terbesarnya adalah kopi instan campur gula dan krimer atau kopi 3-in-1. Nilai impornya mencapai sekitar USD 102,1 juta pada 2025 dan masih naik sekitar 20% pada Januari-Juli 2026.
Secara keseluruhan, kelompok olahan kopi mencatat nilai sekitar USD 130,0 juta dan tumbuh 17%.
Beberapa jenis yang banyak diimpor antara lain:
- Kopi instan 3-in-1
- Kopi instan curah dalam kemasan 20 kg atau lebih
- Biji kopi mentah
Untuk kopi mentah sendiri, ada perubahan yang cukup menarik. Impor robusta turun sekitar 73%, sedangkan arabica mentah meningkat dari sekitar USD 3,2 juta menjadi USD 15,4 juta pada Januari-Juli 2026.
Pilihan produk di lini ini pun cukup luas, mulai dari rangkaian kopi sachet yang bisa dijual kembali melalui retail atau digunakan untuk kebutuhan kafe, sampai kopi instan curah yang bisa menjadi bahan baku produsen kopi kemasan.
Beberapa supplier dan produsen yang cukup dikenal antara lain Trung Nguyen Legend dengan merek G7, Vinacafé, dan Intimex.
Untuk produk kopi instan dalam kemasan eceran, cek kewajiban izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sertifikasi halal. Sementara itu, biji kopi mentah termasuk komoditas tumbuhan sehingga memiliki ketentuan karantina.
7. Tas dan Dompet

Nilai impor 2025: sekitar USD 25,1 juta
Industri tas Vietnam berkembang beriringan dengan industri alas kaki dan garmen yang memang sudah besar di negara tersebut.
Nilai impor tas dalam kelompok HS 4202 dari Vietnam mencapai sekitar USD 25,1 juta pada 2025 dan tumbuh sekitar 23% pada Januari-Juli 2026.
Beberapa produk yang paling banyak masuk adalah:
- Tas dan wadah dengan permukaan luar lembaran plastik (sekitar USD10,9 juta)
- Tas tangan berbahan kulit (sekitar USD 6,8 juta)
- Tas tangan berbahan plastik atau tekstil (sekitar USD 4,1 juta)
Produk tas cukup menarik untuk kamu pertimbangkan karena model dan materialnya sangat beragam. Kamu bisa mencari tas berbahan tekstil, kulit, PU, PVC, sampai kombinasi berbagai material untuk kebutuhan retail maupun OEM dan ODM (private label).
Salah satu perusahaan yang bergerak di industri ini adalah Simone Accessories Collection Vietnam yang memproduksi tas dan aksesori untuk pasar global.
Namun, material menjadi hal penting ketika mengimpor tas karena klasifikasi HS Code ditentukan salah satunya berdasarkan permukaan luar produknya.
Tas kulit, tekstil, dan plastik bisa masuk ke pos tarif yang berbeda. Beberapa pos tarif juga memiliki ketentuan impor seperti LS.
Kalau menggunakan kulit atau bagian tubuh satwa tertentu yang dilindungi dalam perdagangan internasional, dokumen CITES juga dapat diperlukan.
Untuk menghindari proses impor yang lebih kompleks sekaligus mendukung perlindungan satwa, kamu bisa mempertimbangkan produk berbahan tekstil atau sintetis sebagai alternatif.
8. Kursi dan Furnitur Berlapis

Nilai impor 2025: sekitar USD 16,8 juta
Vietnam juga dikenal sebagai salah satu eksportir furnitur dan produk kayu terbesar di dunia.
Untuk kategori kursi berlapis bantalan atau kelompok HS 9401, nilai impornya mencapai sekitar USD16,8 juta pada 2025 dan tumbuh sekitar 39% pada Januari-Juli 2026.
Beberapa produk yang banyak masuk ke pasar Indonesia adalah:
- Kursi berbingkai kayu (sekitar USD 14,2 juta)
- kursi berbingkai logam (sekitar USD 1,7 juta)
- bagian atau suku cadang kursi (sekitar USD 0,6 juta)
Kursi berbingkai logam bahkan tumbuh sekitar 137%.
Produk seperti ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari kafe, restoran, hotel, kantor, sampai proyek interior.
Banyak produsen furnitur Vietnam juga menerima pesanan custom sehingga bisa menjadi pilihan untuk bisnis interior atau pengembangan produk dengan desain sendiri.
Salah satu produsen besar di industri ini adalah AA Corporation yang memiliki jaringan produksi di kawasan Ho Chi Minh City, Binh Duong, dan Dong Nai.
Kalau barang dikirim menggunakan palet atau peti dari kayu solid, pastikan kemasan memenuhi ketentuan internasional ISPM-15 yaitu anti rayap dan kutu.
9. Mainan, Alat Pancing, dan Perlengkapan Olahraga

Nilai impor 2025: sekitar USD 14,9 juta
Kategori mainan, alat pancing, dan perlengkapan olahraga mencatat nilai impor sekitar USD14,9 juta pada 2025.
Meskipun nilainya belum sebesar kategori industri, pertumbuhannya cukup tinggi. Pada Januari-Juli 2026, nilai impornya naik sekitar 62%.
Beberapa produk terbesarnya meliputi:
- Mainan (sekitar USD 10,8 juta)
- Perlengkapan olahraga seperti stik golf dan alat kebugaran (sekitar USD 2,1 juta)
- Alat pancing (sekitar USD 1,5 juta)
Alat pancing bahkan mencatat pertumbuhan sekitar 63%.
Vietnam juga mulai berkembang sebagai basis produksi industri mainan global. LEGO, misalnya, membuka pabrik barunya di Binh Duong pada April 2025 dengan investasi lebih dari USD 1,3 miliar.
Pertumbuhan kapasitas produksi seperti ini bisa menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong perdagangan produk mainan asal Vietnam, meskipun data BPS tidak merinci produk berdasarkan merek.
Kalau kamu tertarik mengimpor mainan anak, perhatikan juga regulasinya. Mainan anak yang dipasarkan di Indonesia wajib memenuhi ketentuan SNI sesuai kategori produknya.
10. Kacang Mede

Nilai impor 2025: sekitar USD 11,6 juta
Kalau mencari produk pangan dari Vietnam, kacang mede juga menarik untuk diperhatikan.
Nilai impor mede kupas, baik segar maupun kering, mencapai sekitar USD 11,6 juta pada 2025. Pada Januari-Juli 2026, nilainya tumbuh sekitar 94% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, kelompok buah dan kacang bahkan tumbuh sekitar 69%.
Vietnam sendiri merupakan salah satu pusat pengolahan kacang mede terbesar dunia dan menguasai sekitar 80% ekspor kacang mede global.
Nilai ekspornya tercatat lebih dari USD 5,2 miliar pada 2025.
Produk ini juga cukup sesuai untuk berbagai lini usaha, mulai dari menjadi bahan baku industri makanan, bakery dan granola, sampai produk kacang dengan merek sendiri.
Kalau ingin memulainya dalam skala yang lebih murah, salah satu caranya adalah membeli kacang mede kupas dalam jumlah curah kemudian melakukan proses pengemasan atau pengembangan produk sendiri di Indonesia.
Salah satu perusahaan yang bergerak di industri ini adalah Lafooco atau Long An Food Processing Export. Kamu juga bisa menggunakan jaringan Vietnam Cashew Association (VINACAS) sebagai salah satu titik awal untuk mencari produsen.
Untuk regulasinya, kacang mede mentah atau kupas termasuk produk nabati sehingga perlu memperhatikan ketentuan karantina tumbuhan.
Kalau sudah dipanggang, diberi bumbu, dicampur bahan lain, atau dikemas sebagai pangan olahan untuk konsumen, cek juga kewajiban BPOM dan sertifikasi halalnya ya.
Perbandingan 10 Produk Impor Vietnam
Supaya lebih mudah dibandingkan, berikut rangkuman produk di atas berdasarkan nilai impor, pertumbuhan terbaru, serta hal utama yang perlu kamu perhatikan sebelum mengimpornya.
Angka pertumbuhan di atas dihitung dari perubahan nilai impor dari tahun 2025 sampai Januari- Juli 2026 berdasarkan data BPS.
Karena data 2026 masih berjalan, angkanya masih bisa berubah. Jadi, gunakan data ini sebagai referensi awal untuk melihat produk Vietnam yang paling laku di pasar Indonesia, ya.
Setelah itu, tetap lanjutkan dengan riset supplier, cek regulasi impor terbaru, hitung seluruh biaya impor yang dibutuhkan, dan pastikan produknya memang sesuai dengan target pasar kamu.
Kalau produk dan supplier sudah ketemu, jangan lupa perhitungkan juga biaya pembayaran ke supplier. Walaupun terlihat kecil, biaya transfer yang terlalu besar atau terus berubah bisa ikut menambah total biaya impor kamu.
Tips Hemat Transaksi Impor ke Vietnam

Kalau sudah yakin untuk memulai impor dari Vietnam, harga barang dari supplier bukan satu-satunya biaya yang perlu kamu perhatikan.
Masih ada ongkos kirim, bea masuk, pajak, biaya pengurusan barang, sampai biaya transfer uang ke supplier.
Karena itu, kamu bisa mulai menghemat dari hal-hal yang masih bisa dikontrol. Misalnya, cari supplier tangan pertama dengan harga yang lebih kompetitif dan pilih layanan kirim uang ke luar negeri dengan biaya yang jelas sejak awal.
Untuk pembayaran ke supplier Vietnam, kamu juga bisa menggunakan Topremit.
Dengan biaya transfer flat mulai dari IDR 55,000, kamu bisa kirim uang dalam nominal besar tanpa khawatir biaya transfer ikut naik hanya karena jumlah uang yang dikirim lebih banyak.
Biaya dan estimasi pengirimannya juga bisa kamu cek dari awal sebelum transaksi dilakukan, jadi lebih gampang untuk masuk ke perhitungan biaya impor kamu.
Tertarik cobain Topremit? Yuk, download aplikasinya di App Store/ Play Store.
FAQ
1. Apa produk Vietnam yang paling banyak diimpor ke Indonesia?
Beberapa kategori terbesar adalah elektronik dan komponennya, kendaraan dan komponen, plastik, mesin, serta alas kaki. Produk seperti kopi, tas, furnitur, mainan, dan kacang mede juga cukup banyak diimpor.
2. Produk apa yang menarik untuk diimpor dari Vietnam?
Kamu bisa mempertimbangkan produk yang permintaannya sedang tumbuh, seperti kacang mede, mainan, furnitur, plastik, dan elektronik. Tetap sesuaikan pilihan produk dengan target pasar dan kemampuan bisnismu.
3. Bagaimana cara mencari supplier dari Vietnam?
Cari produsen melalui marketplace B2B, asosiasi industri, pameran dagang, atau situs resmi perusahaan. Sebelum membeli, cek legalitas, spesifikasi produk, kapasitas produksi, dan reputasi supplier.
4. Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum impor barang dari Vietnam?
Pastikan kamu sudah mengecek HS Code, izin impor, SNI, BPOM, karantina, atau ketentuan lain yang berlaku untuk produk tersebut. Persyaratan setiap jenis barang bisa berbeda.
5. Bagaimana cara membayar supplier di Vietnam?
Pembayaran supplier dapat dilakukan melalui transfer internasional atau layanan remitansi seperti Topremit yang mendukung transaksi ke Vietnam. Sebelum transfer, bandingkan kurs, biaya transfer, dan estimasi waktu penerimaan dana.
Referensi
- Data Ekspor Impor: Impor Menurut Negara/Wilayah/Entitas Tertentu | Badan Pusat Statistik
- Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16 Tahun 2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor | Badan Pemeriksa Keuangan
- 4 Pokok Perubahan Permendag 18/2026 soal Kebijakan dan Pengaturan Impor | Hukumonline
- Penyesuaian Kemenperin atas Pelonggaran Aturan Impor | Hukumonline Pro
- Pemerintah Longgarkan Kebijakan Impor 10 Komoditas | Tempo
- Penahapan Kewajiban Bersertifikat Halal Produk Impor | BPJPH
- Foreign Halal Certificate Registration in Indonesia | Tilleke & Gibbins
- Peraturan Menteri Perindustrian tentang Pemberlakuan SNI Mainan Secara Wajib | Kementerian Perindustrian
- Pemerintah Atur Pengecualian Impor Mainan | Hukumonline
- Electronics Exports Surpass $107 Billion in 2025 | Viet Nam News
- Electronics Drive Viet Nam's Trade Growth as Exports Hit Record in 2025 | Antidumping.vn
- Vietnam's Smartphone, Component Exports Surge to $6.8bn in July | Tuoi Tre News
- Insentif Mobil Listrik Impor CBU Tak Diperpanjang | Gaikindo
- VinFast Starts Operations at Its EV Plant in Indonesia | Electrive
- VinFast akan Produksi Motor Listrik di Pabrik Subang Tahun Depan | Katadata
- Northern Vietnam to House $1.5 Bln Petrochemical Complex | The Investor
- Vietnam's Long Son Starts Up PE, PP Plants | Argus Media
- The Top Brands Made in Vietnam | Cosmo Sourcing
- Shoe Brands Made in Vietnam | Cosmo Sourcing
- Toy Manufacturers in Vietnam | Cosmo Sourcing
- The LEGO Group Opens New State-of-the-Art Factory in Vietnam | LEGO Group
- Viet Nam Cements Status as World's No.2 Coffee Producer, Robusta Powerhouse | Viet Nam News
- Viet Nam Eyes to Expand Market for Processed Coffee | Viet Nam News
- Cashew Exports Surpass $5 Billion for the First Time | Viet Nam News
- Vietnam Remains World's Top Cashew Exporter | Bao Binh Duong
- Vietnam's Electronics Industry 2026 | Vietnam Briefing
- Indonesian National Single Window | INSW
- Cara Impor Barang dari Luar Negeri ke Indonesia | Topremit
- Impor Untuk Dipakai | Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Read more





